Dan Tuhan tidak Bermain Dadu

Posted onDecember 24, 2008 
Filed under Thinking | Leave a Comment

Pertama kali saya membaca ungkapan pendek “Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu” merupakan sebuah judul buku yang saya temui di Gramedia. Saya mengira bahwa buku tersebut hanyalah sebuah pameo belaka dari tokoh motivasi spiritual untuk mendukung sebuah argument bahwa God destiny itu ada sehingga jangan menyerah dan tetap berusaha. Just it hanya motivasi. Sehingga sedikitpun saya tidak menyentuh buku itu.

Akan tetapi melalui sebuah tulisan pendek dari seorang alumni ITB, senior saya, yang menyatakan bahwa ungkapan tersebut keluar dari mulut seorang Albert Einstein ketika sedang berbincang dengan Niels Bohr. Kedua-duanya merupakan fisikawan hebat yang menjadi tokoh-tokoh fisika kuantum atau fisika modern bukan motivator spiritual. Menjadi sesuatu yang menarik ketika kemudian dari tulisan tersebut terungkap bahwa ungkapan tersebut bukan sekedar guyonan disela-sela penelitian atau sebaliknya mereka baru saja mengikuti acara keagamaan. Tetapi kenyataannya ungkapan tersebut lahir dari sebuah persoalan fisika yang mereka geluti setiap hari, bahwa fisika kuantum harus dijelaskan dengan analisa yang bersifat probabilistik.

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa ada bagian tertentu dari hukum alam ini yang terjadinya bersifat probabilistik (tidak pasti). Ketika alam berperilaku berdasarkan kemungkinan (probability) maka keteraturan sistem sebagai sebuah kepastian yang diatur oleh suatu representasi person yang namanya ‘God’ atau representai keteraturan sistem itu sendiri yang self-actuate itu tidak terbukti. Sehingga diibaratkan ‘God’ melempar dadu untuk mengatur alam ini dan kemudian yang terjadi terhadap alam adalah sebuah ‘kebetulan’ seuai dengan berapa munculnya dadu atau apa yang keluar dari hitungan probabilistik itu. Niels Bohr menimpali ucapan Einstein tersebut dengan berkata “Don’t tell the God what to do”

Ketika saya memasuki ITB dan menjalani sebuah proses interaksi bertemu seorang kawan yang sangat-sangat pandai tentang fisika, karena pernah menjadi salah seorang anggota team olimpiade fisika indonesia, yang selalu menulis moto hidupnya adalah “keteraturan system”. Saya cukup kagum dengan moto tersebut dan selalu diucapkan dengan tegas dan yakin. Saya sempat berfikir bahwa “keteraturan system” tersebut bukan sekedar mengenai personality dalam daily life. Keteraturan system lebih memiliki makna universal bahwa segala sesuatu yang ada dalam space (ruang) dan waktu ini berjalan sedemikian teraturnya mengikuti ’sesuatu’. Dan sesuatu itulah yang dicari oleh manusia dan ketika ditemukan dinamai sebagai science and technology. Bagi seorang scientist atheis dapat saja berkeyakinan bahwa yang disebut ‘God’ adalah gabungan dari semua keteraturan di ruang dan waktu ini yang membentuk suatu sistem yang secara pasti mengatur gerak-gerak planet, mengatur kapan patahan di sekita sumatera menjadi tsunami, mengatur kapan sperma dan ovum dari sepasang laki-laki perempuan menjadi janin, dan terus di break-down, breka-down, sampai kecil-kecil mengikuti sebuah kepastian system yang semua harus dapat dijelaskan ketika diteliti melalui science.

Bagi seorang Non-atheis ruang dan waktu adalah sebuah ciptaan dengan semua hukum-hukumnya sudah dituliskan oleh Tuhan sampai hal-hal yang paling kecil sekalipun dengan sebuah kepastian. Jika sebuah benda bermassa tertentu jatuh dari ketinggian tertentu maka akan menimbulkan impact tertentu, jika gaya tertentu ditimpakan ke suatu permukaan tertentu maka menimbulkan tekanan tertentu, jika ada komponen kimia tertentu bereaksi dalam tubuh manusia maka akan menimbulkan efek tertentu, dan lain-lain. Semua ‘makhluk, partikel, zat’ diciptakan untuk berperilaku dalam fungsi ruang dan waktu mengikuti rumus yang sudah diattach kepadanya oleh Tuhan secara pasti. Bahkan sesuatu yang lain yang jarang disebut sebagai science seperti jodoh, kematian, rezeki, dll boleh diyakini sebagai sebuah kepastian yang mengikuti sebuah rumus yang sudah diattach oleh Tuhan tanpa siapapun menyadari. Ketika raptor diyakini berevolusi menjadi burung maka dengan konsep ini dapat dikatakan bahwa Tuhan telah meng”attach” sebuah rumus pada sel-sel tubuh raptor untuk berubah menjadi burung dalam fungsi ruang dan waktu. Perubahan bentuk adalah fungsi ruang, proses rentang waktu yang diperlukan untuk berubah adalah fungsi waktu. Evolusi dapat didefinisikan sebagai perilaku sel tubuh untuk mengikuti sebuah fungsi ruang dan waktu yang ditugaskan kepadanya oleh Tuhan. Ternyata cara pandang tentang kepastian seperti ini adalah cara pandang yang didasari oleh metode deterministik sebagaimana fisika klasik newtonian, hukum alam adalah sebuah kepastian.

Fisikawan modern yang masih hidup dan mungkin akan menjadi legenda di masa mendatang yaitu Stephen Hawkin justru mengatakan “Tuhan memang Bermain Dadu”. Dengan demikian ingin dikatakan bahwa ilmu fisikapun (yang dikenal sebagai ilmu pasti) harus mengikuti hukum probabilitas untuk menjelaskan fenomena fisika mikroskopik. Kalau fisikapun harus diyakini dengan ketidak pastian bagaimana dengan fenomena lain yang jauh dari fisika seperti rezeki, jodoh, dll bisa jadi merupakan sebuah ketidak pastian…….. Seorang kawan menimpali apa salahnya Tuhan me’running’ alam ini dengan probabilistik ketika probabilistik itu sendiri adalah ilmu Tuhan juga. Tetapi jangan sampai dikatakan bahwa “Tuhan memang bermain dadu, sampai dadunya terlempar jauh dan hilang”. Wallahualam Bisshawab.

Nova Kurniawan

Batam-Indonesia

Kartun Nabi Muhammad

Posted onNovember 30, 2008 
Filed under Thinking | Leave a Comment

Beberapa minggu ini televisi kembali dihiasi oleh berita pemuatan Kartun Nabi Muhammad di blog lapotuak yang secara sekilas saya dengar menggambarkan sosok Muhammad yang sangat direndahkan. Selain berisi kartun tersebut dari archieve artikel-artikel yang masih ada di memory google menggambarkan bahwa guyonan-guyonan yang mendeskreditkan umat Islam tersebut sering dimuat di blog tersebut.

Kalau yang membikin blog tersebut adalah orang Islam tentu dia adalah bukan termasuk golongan orang shaleh. Untuk motivasi apa pemuatan itu? Pembenturan dengan umat lain?

Kalau yang membikin blog tersebut adalah orang Kristen, secara keyakinan bahwa umat Kristen tidak mengakui Muhammad sebagai utusan Allah dan suri tauladan umat manusia adalah sebuah fakta, tetapi secara eksplisit menyebar api penghinaan kepada umat Islam di Indonesia adalah tindakan tanpa perhitungan di luar akal sehat. Kalau terjadi konflik tentu tidak dibayangkan yang akan terjadi.

Memang Muhammad sering menjadi bahan ejekan sebagai Nabi Palsu, Beristri banyak di blog-blog yang berisi perbandingan atau pertentangan Islam-Kristen. Di lain sisi jarang sekali terjadi pengejekan terhadap Nabi Isa (Jesus) putra Maryam karena seorang muslim tidak mungkin dan tidak boleh mengejek Nabi Isa. Karena Nabi Isa adalah Nabi Allah yang mendapat wahyu dari Nya untuk Bani Israil. Titik point yang ditentang umat Muslim adalah orang-orang setelah Nabi Isa (Jesus) yang menganggapnya sebagai anak Allah dan Allah itu sendiri. Sehingga di dalam konsep Islam, tidak ada yang salah pada diri Nabi Isa (Jesus) dan ajarannya sehingga Nabi Isa (Jesus) tidak boleh dikata-katai dengan tidak senonoh sebagaimana orang-orang yang membuka kalimatnya dengan kata ’shalom’ kemudian dengan tidak senonoh mengata-ngatai Nabi Muhammad. Silahkan anda search blog-blog yang berisi perdebatan tentang Islam-Kristen.

Saya melihat ada sesuatu yang tidak seimbang yang perlu diseimbangkan dalam dunia ejek-mengejek. Ketika Jesus tidak pernah direndahkan atau diejek seharusnya Muhammad juga tidak boleh diejek-ejek dan direndahkan. Karena kedua manusia suci itu mungkin nanti akan tinggal bersama di Surga di kapling tempat nabi-nabi Allah dan bersenda gurau.

Kecuali jika anggapan bahwa Jesus adalah manusia suci yang setara dengan nabi Allah yang lain seperti Muhammad dianggap sebagai mengejek maka nash Al-Qur’an “Tidak akan rela kaum Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu mengikuti agama mereka” akan menjadi jawaban.

Seorang kakek dengan istrinya yang berjilbab di Batu Merah membicarakan rencana mereka untuk hadir di acara ‘pengobatan tradisional’ yang bernama Batam Festival. It is traditional, isn’t it? Haha it’s like great success. Setidaknya pamflet-pamflet dan iklan itu ada hasilnya untuk menguatkan nash Al-Qur’an itu. Pamflet-pamflet tanpa organisasi atau event organizer penyelenggara kegiatan ‘penyembuhan magic’ adalah khas kaum itu untuk membenarkan nash Al-Qur’an di atas, sebagaimana kejadian di ITB dulu.

Nova Kurniawan

When the Bali Bombers Sent to death

Posted onNovember 30, 2008 
Filed under Thinking | Leave a Comment

When I openned the history book about Muhammad, I failed to understand in which part Muhammad told people to let his fellow moslem to attack dancing people, to attack civilian which is not in war, to attack enemy without fully aware that they are in war, to attack people who get drunk, to attack people who come to peacefull region for friendly purposes. I failed to open in which chapter the Bali Bomber could get lesson learn that such kind ‘war’ was a holy war.

I am not an Ulama or Ustadz or other Islamic priest. I am only a moslem with very much interest in history of human civilization. The history of the human told us that the people could be wrong. The history should record the wrong is wrong as it was. But as a moslem I have also intersection between history and faith in where I will stand up. Whetever Muhammad did in his life was a truth because he was guided directly from the arsy by Allah. Only people had credible record in his life could write the history of Muhammad. For those who caught lie even in only once and small thing tell a lie to child or animal, so that all his story about Muhammad will be considered as ‘doubt story’. Only those one who has undoubt story from the undoubt person that will be recorded as official history. I would tell to the people how the moslem historian compile everything about what Muhammad spoke, did, agreed, and what the people told around him. When they compiled it they would make sure from whom this story come from, and whom, and whom again until made full chain from time when the history recorded to the time of Muhammad. The people who brought the story should meet each other in good manner not in doubt manner. If those people was getting old already when telling the story, the compiler will clasify as doubt story. Because they did not want to take a risk putting story from the people who possibly lost his mind. What I am saying is there is no doubt at all on the official history of Muhammad. Muhammad action was a truth and the history also a truth.

And again Muhammad was not an attacker of get drunk dancing people. Muhammad was the attacker of enemy army in the field of battle.

People will easy asking about “how come you told us that all they did is not come from Muhammad history once the bomber always take the ayyah or words from Qur’an and Hadist to justify their action?”

I am not in a capacity to evaluate the content of what they said. But I just want to make sure as far as my record in the history that there is no doubt Muhammad was a general in desert battle.

Nova Kurniawan

Ucapan Selamat Itu…(An Untold His-Story in ITB)

Posted onOctober 5, 2008 
Filed under Thinking | 2 Comments

Ini adalah kisah nyata yang terjadi 6 tahun lalu di suatu tempat di kampus yang telah melahirkan sosok presiden pertama Republik Indonesia, this is Technische Hoogeschool Bandung. Pada bulan desember 2002 tiba-tiba saja terbentang sebuah spanduk bertuliskan “Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2003″ dengan cap Badan Pengurus HMFT-ITB di Labtek VI ITB. Sesuatu yang belum pernah terjadi setidaknya dalam 3 tahun sebelumnya di Labtek VI.

Lohh…apakah ada yang aneh? Bukankah hal ini biasa saja sebagaimana yang sering kita liat di televisi ataupun di spanduk-spanduk jalanan?

Iya..,ini menjadi tidak biasa karena ini terjadi di ITB.

Loh kenapa memang dengan ITB? Bukankah ITB itu bukan pondok pesantren? Bukan pula IAIN? kenapa harus menjadi tidak biasa?

Masalahnya bukan karena institusi ITB-nya tetapi karena memang ITB berisi elang-elang ideologis yang gemar memikirkan sesuatu dan menganggap penting sesuatu dengan pola pemikiran yang sangat-sangat konspiratif. Dan bagi temen-temen di luar ITB boleh percaya boleh tidak bahwa selama saya kuliah dari ITB jarang sekali tampak ada spanduk ucapan seperti itu, selain dari internal Keluarga Mahasiswa Katolik dan Persatuan Mahasiswa Kristen itu sendiri.

Hadirnya spanduk ucapan itu ternyata menimbulkan sebuah polemik SARA yang cukup seru dalam beberapa minggu di internal himpunan mahasiswa. Lontaran pertama yang muncul adalah nada protes dari kubu temen-temen Islam yang konsern dengan hal yang terkait appresiasi terhadap keyakinan orang lain. Kenapa harus ada ucapan “selamat hari natal” sedangkan ucapan “selamat idul fitri” tidak pernah tampak? Itulah pertanyaan awalnya.  Padahal faktanya ucapan idul fitri itu telah ada seminggu sebelum lebaran, tapi karena umumnya mahasiswa yang muslim pada mudik menjelang lebaran, jadi mereka-mereka yang protes tidak melihat bahwa ucapan itu pernah ada. Perdebatan berlanjut, berkembang dan membuka alasan sebenernya kenapa ada sekelompok orang yang melakukan protes adanya “ucapan selamat natal”. Alasan itu adalah karena adanya sebuah interpretasi keyakinan teologis:

“Umat Islam dilarang memberikan apresiasi atau ucapan selamat terhadap suatu perkara yang secara frontal bertentangan dengan akidah Islam. Dasar dan ulasan kuat yang dipakai adalah fatwa BUYA HAMKA pada sekitar tahun 1981-an”.

Alkisah pada akhir tahun 70-an Menteri Agama Alamsyah Ratu Prawiranegara sedang giat-giatnya menggulirkan konsep Tri Kerukunan Umat Beragama sebagai dasar kehidupan beragama. Konsep tersebut yang dimasukkan dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dan menjadi sebuah konsep pemahaman yang harus diikuti oleh umat beragama. Efek langsungnya adalah perayaan natal bersama menjadi budaya baru di masyarakat. Dapat dibayangkan bagaimana mungkin seorang muslim mengapresiasi kelahiran seorang anak Tuhan? Hal ini merupakan sesuatu yang sangat ditentang dan menjadi basic akidah seorang muslim bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tokoh Islam yang berfikiran ‘moderat-liberal’ mengatakan mengapresiasi natal berarti sama saja dengan merayakan kelahiran nabi Isa, dan hal itu bukan masalah bagi umat Islam karena umat islam mengimanai nabi Isa. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah saudara-saudara nasrani mau menerima jika diberi ucapan selamat untuk kelahiran Yesus bukan sebagai anak Tuhan, bukan sebagai penebus dosa umat manusia, hanya Isa sebagai manusia biasa (Nabi Allah)?. Ketua MUI waktu itu BUYA HAMKA menentang keras konsep tersebut dan mengeluarkan fatwa haram hukumnya mengikuti perayaan natal bersama termasuk juga mengucapkan selamat natal. Akan tetapi orde baru dan P-4 nya lebih berjaya dalam pergumulan sejarah sehingga pelajaran PMP & PPKn disekolah-sekolah mengajarkan bahwa ikut membantu teman yang merayakan natal dan memberikan ucapan selamat natal adalah perbuatan terpuji sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Setiap anak SD generasi 1980 - 1990-an pasti akan memilih jawaban itu dalam ulangan-ulangan THB atau UUB mata pelajaran PMP/PPKn. Karena itu adalah aplikasi toleransi yang hendak diajarkan melalui P-4 kepada generasi kita.

Kisah tentang Shalahudin Al Ayyubi ketika di Jerusalem setelah memenangkan salah satu fase perang salib memberikan ucapan selamat natal kepada penduduk nasrani di Jerussalem kemudian menjadi salah satu pertimbangan pembenaran. (Kebenaran peristiwa ini pun masih menjadi sebuah tanda tanya besar, sebuah kisah kebenaran atau sekedar isapan jempol). Kalaupun itu terjadi, salah seorang teman memberikan sebuah evaluasi bahwa ada konteks tertentu yang menjadi pertimbangan waktu itu di Jerusalem. Islam memandang orang di luar Islam sebagai dzimmi & harbi, termasuk juga umat nasrani. Orang nasrani dzimmi yang tunduk dan tidak menunjukkan sikap agressif kepada umat Islam adalah orang yang perlu dilindungi harta dan jiwanya dan “mungkin” boleh diappresiasi keyakinannya, dan sepertinya ciri inilah yang merupakan ciri umat nasrani di Jerussalem waktu itu. Sedangkan harby adalah yang sebaliknya, mereka yang agressif baik secara fisik ataupun non fisik.

Bukankah semua umat nasrani di Indonesia umumnya dan di ITB khususnya pada tahun 2002-2003 itu adalah sebagaimana umat nasrani di Jerusalem waktu itu. Damai, bersahabat, dan penuh cinta kasih kepada umat lain. Sehingga setidaknya kalaupun apa yang dilakukan oleh Shalahudin Al Ayyubi adalah kebenaran, dapat dijadikan sebagai pembenaran bagi seorang muslim untuk mengucapkan selamat natal di ITB sebagai bentuk toleransi.

His-story harus merecord apa yang terjadi di ITB dalam waktu yang tidak jauh dengan peristiwa spanduk itu.

ITB, sebagaimana yang sempat saya singgung di depan, adalah kampus yang dihuni oleh makhluk-makhluk ideologis yang gemar berkonspirasi dan berkonfrontasi secara pemikiran. Jika kuliah di ITB tetapi tidak ikut atau setidaknya tidak dapat merasakan aroma ini maka ibarat melewatkan begitu saja suguhan sejarah miniatur pemikiran ideologis di Indonesia.

Coba dibayangkan apa yang mendasari seseorang yang sehari-harinya adalah sahabat yang sangat tolerance di kuliah, ikut aktif mengadakan suatu kegiatan yang namanya KKR (Acara penyembuhan Nasrani) di Aula Barat ITB tanpa ada satupun indikasi di pamflet-pamfletnya, bahwa kegiatan teresebut adalah kegiatan keagamaan.  Sahabat-sahabat itu justeru mereka menekankan kegiatan itu sebagai kegiatan penyembuhan dengan mengajak masyarakat kecil sekitar kampus (pedagang kaki lima dkk) yang hampir semua muslim untuk bergabung. Kalau bukan alasan ideologis tidak mungkin sahabat-sahabat itu bercapek-capek merancang kegiatan itu dengan berbagai strateginya tanpa ada indikasi sebagai acara keagamaan. Namun faktanya acara itu penuh dengan aplikasi penyembuhan dengan cara nasrani.

Nah, kegiatan ini secara nyata adalah merupakan kegiatan yang sangat-sangat agressif dari temen-temen nasrani waktu itu di ITB. Kalau bukan untuk niatan agressif untuk apa mengundang orang-orang muslim untuk diobati penyakitnya dengan metode spiritual dengan menyebut-nyebut sebagai pertolongan Yesus. (Sehingga keberatan pemberian ucapan selamat natal pd waktu itu seperti menemukan relevansinya). Kegiatan di Aula Barat ITB tersebut dihentikan oleh sahabat-sahabat ideologis lain (Islam) yang memberikan pengumuman bahwa yang beragama Islam dipersilahkan keluar. Dan memang ternyata banyak orang Islam di dalam sana dan setelah diinterview ternyata mereka tidak tahu menahu kalau kegiatan penyembuhan tersebut adalah kegiatan keagaman nasrani.

Saya sampai sekarang masih merasa heran kenapa sempat terfikir oleh temen-temen nasrani untuk mengajak orang muslim ikut acara mereka? Saya sendiri tidak pernah berfikir untuk mengajak orang-orang nasrani ikut dalam kegiatan ritual seperti pengajian jurusan dan sejenisnya. Apakah itu artinya jiwa-jiwa missionaris telah terpatri dalam diri setiap umat nasrani untuk selalu menjalankan MISI-nya kepada ‘gembala-gembala liar’ dengan berbagai cara. Kalau itu memang benar adanya maka benar yang dikatakan Al-Quran: “Tidak akan rela orang Yahudi dan Nasrani sebelum kamu bergabung dengan agama mereka”

Kasus KKR itu berbuntut panjang yang menyebabkan sebuah surat pernyataan keberataan yang ditandangani seluruh LDD di ITB dan meminta permohonan maaf dan janji tidak mengulangi lagi dari lembaga yang mengadakan acara itu dalam dialog yang difasilitasi oleh Kabinet Mahasiswa ITB.

Toleransi kalau ditelusuri dari asal katanya adalah bermakna membiarkan. Artinya membiarkan orang lain untuk secara bebas menjalankan ibadah agamanya, that’s it. Jangan ditambah-tambahi….dengan membantu hal yang berkaitan dengan ibadah, ditambah dengan mengapresiasi sesuatu yang terkait dengan keyakinan, dan sejenisnya….jangan dan tidak perlu.

Ada sebuah pernyataan dalam dialog di televisi bahwa dalam rangka meningkatkan toleransi hendaknya umat Islam tidak mengkafirkan umat agama lain. Sebuah pernyataan yang cukup menimbulkan senyum dan tanda tanya?. Mungkin bagi sang pembuat pernyataan berfikir istilah kafir adalah istilah untuk kaum pagan penyembah berhala, tidak bermoral, dan tidak beradab. Padahal secara simple dapat dipahami bahwa orang kafir adalah orang yang mengingkari keyakinan Islam yaitu Rukun Iman. Tidak ada upaya sama sekali dengan penyebutan itu menempatkan umat lain sebagai tidak bermoral & tidak beradab dan menggolongkan mereka sebagai umat pagan. Sama sekali tidak ada niatan ke sana……

(Tapi terus terang penulis perlu mendalami lagi kapan istilah kafir harus digunakan, sementara istilah ahlul kitab juga sering muncul di Al-Qur’an)

Nova Kurniawan

ex-Sekjen Mufti ITB 2002-2003

ex-Kadiv Kajian BP HMFT ITB 2002-2003

Daud Vs Goliath

Posted onOctober 5, 2008 
Filed under Thinking | 1 Comment

Dalam setiap pertarungan, pertandingan, kompetisi, & perseteruan antara dua kekuatan, dua kelompok, atau dua team yang tidak seimbang maka terminologi Daud Vs Goliath sering digunakan. Daud digambarkan sebagai pihak yang kecil,lemah, kekurangan senjata, namun baik hati, tampan, dan tidak sombong. Sementara Goliath digambarkan sebagai pihak yang kuat, bersenjata lengkap, raksasa tapi penuh kesombongan dan angkara. Hasil akhir dari perseteruan itu sebagaimana yang sudah diketahui oleh dunia adalah Daud bisa memenangkan pertarungan itu dengan kecerdikannya. Anak-anak kecil yang mendapatkan cerita itu sebelum tidur tentu dengan serta merta ingin mengidentikkan dirinya sebagai Daud, dan tentu benci sekali dengan sosok yang bernama Goliath dan tentaranya. Cerita yang bersumber dari kitab suci kristen ini dapat dikatakan telah memasuki ruang-ruang tempat tidur mayoritas anak-anak seluruh dunia, terutama Eropa dan Amerika tentunya.

Cerita tersebut dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak untuk menjadi seorang ksatria yang rendah hati, namun pemberani dan tidak mengenal takut. Siapa sih yang tidak ingin menjadi sesosok bocah tampan nan cerdik yang namanya melegenda dan menjadi penakhluk panglima perang galak dan sombong? Jika kita berhenti di sini maka cerita tersebut dapat menjadi simbologi kebaikan melawan kejahatan untuk seluruh anak di dunia tanpa terkait keyakinan, agama, dan budaya.

Akan tetapi jika si kecil merupakan anak yang cerdik dan mengejar dengan kisah yang lebih detail tentang Daud dan Goliath, maka akan disampaikan sisi detail dan membentuk pemahaman alam bawah sadar anak-anak yang akan mempengaruhi sikap mereka terhadap akar dari seluruh konflik di muka bumi abad 20-21 yaitu konflik timur tengah.

“DAUD adalah dari ISRAEL dan GOLIATH adalah dari FILISTIN”

Happy ending dari kisah Daud Vs Goliath adalah Daud bisa mengalahkan Goliath dalam sebuah pertempuran. Dan alam bawah sadar Eropa, Amerika, dan Yahudi akan menggiring pada sebuah mimpi Bangsa Israel (anak keturunan Daud) akan (harus) mengalahkan Bangsa Palestine (anak keturunan Goliath si Filistin). Palestine menjadi representasi bangsa yang penuh angkara murka sejak zaman nenek moyang mereka. Dan Israel adalah bangsa keturunan ksatria yang harus dibela dan didukung sebagaimana masa kecil mereka yang mengidolakan sosok Daud, ksatria nenek moyang bangsa Israel. Dan pertarungan ini terus terjadi sampai sekarang dan terus..terus…entah kapan akan berakhir. Padahal belum ada bukti yang kuat menunjukkan bahwa orang-orang Palestina sekarang ini adalah keturunan orang-orang yang disebut sebagai Filistin musuhnya Daud.

Alam bawah sadar masa kanak-kanak cenderung lebih mendominasi hati dibandingkan dengan fakta masa kini bahwa Israel lah sekarang Goliath itu dengan kekuatan senjata dan angkara murkanya berhadapan dengan Daud si Palestine yang lemah tanpa senjata yang memadai. Mayoritas Eropa dan Amerika secara terang-terangan, sembunyi-sembunyi, atau sekedar ungkapan bawah sadar pasti akan membela Israel meskipun fakta Daud Vs Goliath telah berbalik 180 derajat. Seorang kandidat presiden Amerikapun dijamin akan gagal dalam nominasinya jika tidak menunjukkan dukungan yang nyata terhadap Israel. Bukan hanya sekedar karena lobi Yahudi yang terlalu kuat di Washington, tapi juga karena opini dan pemahaman masyarakat Kristen Barat sendiri terhadap Israel sebagai bangsa yang dicintai tuhan, salah satunya tentu berasal dari cerita anak-anak, Daud Vs Goliath.

Masyarakat muslim harus melihat dan memahami semua di atas sebagai sebuah fakta keyakinan yang tidak dengan mudah dibalikkan. Meskipun sebuah ‘protes’ kecil perlu diberikan ketika masih mengaitkan sosok angkara murka Goliath (Filistin) dengan bangsa Palestina masa kini, padahal sudah bercampur dan berasimilasi dengan bangsa Arab (mungkin juga Parsi) dan sebagai negara terdiri dari berbagai macam agama ada Islam, Kristen, dan Yahudi itu sendiri. Cukupkanlah itu sebagai simbol kebaikan melawan kejahatan tanpa mengaitkan dengan asal muasal suku bangsanya.

Nova Kurniawan

Pemerhati Sejarah

Dia itu orangnya baik lho….part II

Posted onSeptember 21, 2008 
Filed under Thinking | Leave a Comment

Saya hoby sekali mengamati fenomena-fenomena paradoks yang sering beredar di sekitar kita tapi memang agak-agak aneh dan akan menimbulkan multi opinion untuk menanggapinya. Seperti pernyataan ini:

“Meski cewek itu hobynya dugem, ngrokok, and alkohol tapi hatinya baik lho n perhatiannya ke anak kecil tinggi sekali”.

Jadi kalo misalkan anda seorang laki-laki diminta menyimpulkan cewek itu baik apa tidak, apakah anda bisa melakukannya? Saya kira ini bukan pekerjaan mudah. Kebanyakan akan menyimpulkan berdasarkan subyektivitas masing-masing. Bagi anda yang sangat anti2 alkohol, rokok, dugem tentu saja cewek itu adalah makhluk pendosa jauh dari kategori baik. Bagi anda yang menganggap alkohol, rokok, dugem adalah hal biasa dan kebaikan hati secara sosial kepada orang lain sebagai sebuah nilai lebih tentu akan menilai cewek tersebut sebagai gadis baik hati.

Jika kedua subyektivitas ini dipertemukan dalam sebuah debat maka tidak akan menghasilkan sebuah kesimpulan.

Kemudian pertanyaannya adalah adakah sebuah parameter obyektif yang bisa diterima oleh kedua subyektivitas itu? Sehingga kedua subyektivitas itu merelakan untuk menilai si gadis berdasarkan parameter obyektif. Sehingga didapatkan kesimpulan obyektif. Parameter itu mau tidak mau harus dibawa ke universial value yang dipercaya oleh kedua subyektivitas tersebut.

Kegiatan menilai orang itu menjadi kritikal bagi orang-orang yang hendak menentukan pilihan teman hidupnya. Salah menilai bs menyebabkan kekecewaan yang mendalam dalam phase kehidupan selanjutnya. Sangat naif kiranya jika penilaian yang diberikan lebih dominan kepada; “seberapa sayang dia padaku?”, “seberapa care dia padaku?” tanpa berusaha untuk lebih mendominankan penilain, “seberapa care dia terhadap dirinya sendiri?’, “seberapa care dirinya terhadap orang tuanya?”. Karena kedua penilaian terakhir lebih kepada penilaian obyektif dari profil yang hendak dipilih.

Orang yang care thd dirinya sendiri artinya bs memanage dirinya sendiri menuju kebaikan tentu setidaknya punya pengalaman yang bisa dijadikan bekal untuk menguide orang lain menuju kebaikan. Itu yang lebih baik bukan….?

Menilai seseorang pada profil obyektif dia akan jauh lebih bermanfaat dari pada menilai orang berdasarkan sikap dia kepada kita…seperti ngertiin,care,perhatian, dll   

Batam, 22 September 2008

Nova Kurniawan

Anjing

Posted onSeptember 14, 2008 
Filed under Thinking | Leave a Comment

Anjing…. ya anjing…menurut anda bagaimana kah seharusnya kita bersikap terhadap anjing. Bagaimanakah perasaan seorang pemilik anjing ketika ia melihat anjingnya suka menggonggongi tetangga? Puas kah? Bukankah dengan memiliki anjing yang suka menggonggongi tetangga itu, secara sengaja dia menciptakan sebuah barier dengan tetangga sekitar? Bukankah setiap gonggongan anjing terhadap tetangga itu menggumpalkan sikap kurang senang dari tetangga terhadap sang anjing? Dan yang terakhir ini memang tidak ada rumusnya tapi memiliki bukti empiris dr yang saya liat, bahwa pemilik anjing sebagian besar adalah non-muslim? Dan bukannkah ketika non-muslim tinggal di komunitas muslim dan si non muslim punya anjing yang gemar menggonggongi orang berangkat sholat shubuh ke masjid (mungkin jam 4:30 pagi masih diset di otak si anjing sebagai ‘maling’ time), hal tersebut akan menciptakan sebuah relasi sosial yang kurang mengenakkan bukan?

Bahkan anjing itu bisa mengarah kepada tindakan yang tidak tolerance. Karena menghalangi orang untuk beribadah. Sebagaimana pengertian toleransi adalah membiarkan. Aplikasi toleransi ‘anjing’ ini lebih penting daripada mengagung-agungkan toleransi sebagai pemberian ucapan hari besar agama.

Bagi anda temen-temen muslim tidak ada larangan memiliki anjing, hanya air liur anjing adalah najis jika terkena tubuh anda. Dan harus dibersihkan jika ingin kembali suci.

Bagi temen-temen non muslim tinggal dikomunitas muslim bisakah ketika memiliki anjing agar menaruhnya di dalam rumah. Rasanya tidak etis secara sosial jika jam 04:00 pagi orang berangkat sholat subuh selalu digonggongi anjingnya orang non-muslim, krn anjingnya ditaruh di luar rumah. Hal-hal kecil seperti ini akan semakin mempertebal barier dan mempersulit integrasi anda dengan komunitas sekitar.

Kecuali jika memang anda puas jika anjing anda menggonggongi tetangga…

Batam, 15 Sept 2008

Mistake of Indonesian Police

Posted onAugust 29, 2008 
Filed under Thinking | Leave a Comment

When you were in senior high school you should remember where was every each your friend going to continue study or went to join what institution after school graduation. The question then….

What was the class rank of them belong to for those of your friend who join police academy?

If you have already answer, Could it be the answer of the crime analysis statement on television that the Indonesian Police Officer is Lazy and Smartless? If I must answer my self those my friend who join police institution were avarage people in my class in science and even in social knowledge. Unfortunatelly I must say there is no excellency at all for them.

It will be different for those my friend who belong to first to fifth rank at my class who most of them is now joining multinational company, private company, and research institution. They are all the best. They are all smartest people of the class generation who prefer to give service for non bureaucratic institution. But unfortunately most of them only working for capitalism with all their smart brain to give contribution for money.

The case of police did wrong capture and wrong investigation and made innocent people send to jail was unacceptable excuse for police institution. Somebody says "Better to release 100 guilty people, rather than send innocent people to jail".

This was the crime againts huminity.

What I want to say is please bring the smartest people of the generation to the police academy, to military academy, to beraucracy institution, and other government public services…

Batam, 30 August 2008

Nova Kurniawan

The highest rank of rape

Posted onAugust 20, 2008 
Filed under Thinking | Leave a Comment

Ada pernyataan yang cukup vulgar dari seorang yang biasa muncul di televisi bahwa negara dengan tingkat perkosaan tertinggi di dunia adalah Arab Saudi. Dengan sebuah sintesa sembarangan diambillah sebuah kesimpulan bahwa ketika wanita disuatu negara makin tertutup rapat dalam busana, maka laki-laki semakin penasaran dan berakibat libido untuk memperkosa setiap individu makin meningkat dan jika dikalkulasi secara nasional menyebabkan negara menempati ranking tertinggi sebagai negara pemerkosa wanita. Secara tidak langsung ingin dikatakan bahwa ketika wanita di suatu negara dibebaskan untuk berpakaian setengah telanjang atau telanjang maka tingkat pemerkosaan akan menurun. Kenapa? karena para laki-lakinya sudah bosan…… Ahh..cuman gitu aja.. Nothing special…

Kalau orang Indonesia normalnya bilang…Ahh..ya tidak se-ekstrim itu. Tapi pandangan exstrim diperlukan untuk menguji sebuah kesimpulan. Dan jika menemukan kejanggalan maka penarikan kesimpulan di atas adalah salah. Secara otomatis pernyataan bahwa di Saudi tingkat pemerkosaan tinggi dihubungkan dengan wanitanya yang berjilbab adalah salah. Begitu pula penarikan kesimpulan bahwa jarangnya pemerkosaan di Eropa atau Amerika karena wanitanya berpakaian free style adalah salah juga. Lalu kenapa….

Kalau anda di Saudi mungkin ngapelin wanita bukan muhrim….kasus anda akan masuk dalam catatan polisi kalo ada yang lapor. Saya nggak tau apakah kategori pasal pemerkosaan apa tidak…tapi tidak akan jauh-jauh dengan kategori itu. Sekecil apapun itu akan masuk ke catatan polisi syariah.

Kalau anda di Barat ngapelin wanita bukan muhrim…nggak akan ada yang lapor. Apalagi suka sama suka…orang lain yang ngeliat juga gak akan bisa bikin laporan apapun….ke polisi. Sebesar apapun itu tingkat pergaulan laki-wanita kalo tidak ada yang dirugikan tidak akan ada catatan polisi.

Just simple thinking………

Batam, 20 Agustus 2008

Nova

Dia itu orangnya baik lho……

Posted onAugust 19, 2008 
Filed under Thinking | Leave a Comment

Sering kali terdengar suatu percakapan yang mengatakan "Dia itu orangnya baik lho……", atau kenapa kamu memilihi dia? jawabannya adalah "Dia itu orangnya baik……". Ketika dikejar dengan pertanyaan "Baik gimana maksudnya?" maka setiap orang memiliki definisinya baiknya masing-masing.

Setiap manusia itu pada dasarnya adalah baik dan dilahirkan baik, hanya ada suatu kondisi yang menyebabkan dia keluar dari kriteria kebaikan itu. "Kriteria kebaikan yang mana?" well…jarang orang yang berani mendefinisikan baik itu secara terbuka sebagai tolok ukur. Apalagi berani menyebutkan ukuran quantitatif….sangat-sangat jarang. Padahal ada orang yang bisa menyimpulkan kebaikan seseorang dari jam berapa bangun pagi dan apa yang dilakukan ketika bangun pagi. Saya termasuk agak ‘jahat’ untuk ukuran ini, karena sering terlambat bangun. Dan sungguh memang itu mencerminkan kondisi qualitas diri saya dalam menjalani hidup pada siang harinya.

Ryan dari Jombang aja menurut orang tuanya adalah baik, cuman dia khilaf aja sebagai manusia. Dalam komunitas mereka tentu saja perilaku homoseksual harus dapat dikatakan sebagai "baik" dan tidak bisa dikategorikan sebagai "tidak baik".

Dalam komunitas orang-orang Pilliphine dan orang-orang lokal di Batam misalnya yang terpengaruh oleh "euforia sosialisasi" kerja sebagai sebuah kebutuhan, tentunya minum minuman keras adalah baik-baik saja dan tidak menyebabkan orang itu drop kategorinya menjadi ‘tidak baik’ karena memang menurut mereka hal itu biasa aja. Lain halnya katakan orang normal di pelosok jawa timur yang masih kental perbedaan abangan & santri. Seseorang yang menyentuh minuman keras telah jatuh derajatnya menjadi orang yang ‘jahat’ terhadap dirinya sendiri dan jauh dari kesan baik.

Oleh karena itu kesimpulan tentang kebaikan seseorang tanpa memberi kategory yang bisa dinilai kualitatif & kuantitatif adalah ibarat pernyataan yang tidak ada isinya….

Batam, 20 Agustus 2008

Nova Kurniawan

Next Page →